Sabtu, 23 Oktober 2010

Refleksi Penelitian di Indonesia


Pada negara-negara yang telah mengalami kemajuan Iptek, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional merupakan salah satu ukuran penting untuk mengukur kualitas penelitian. Di beberapa negara maju seperti Jepang, Inggris dan Amerika, jumlah dan kualitas paper ilmiah yang dipublaksikan tersebut bahkan dijadikan salah satu ukuran untuk menentukan berapa besar dana penelitian yang akan diberikan pada laboratorium tersebut. Paper ilmiah dianggap cukup mewakili penilaian kualitas penelitian, mengingat paper tersebut akan diuji oleh para peneliti yang berkompeten di bidangnya sebelum dinyatakan layak untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tersebut.
Majalah ternama ilmu pengetahuan Nature terbitan 21 Juli 2005 memuat sebuah artikel menarik tentang perkembangan penelitian yang sangat pesat dari negara-negara di Asia. Data tersebut melaporkan pesatnya pertumbuhan publikasi ilmiah yang ditunjukkan oleh negara di Asia Pasific pada tahun 2004 yang mencapai 25% dari total paper ilmiah yang terbit di seluruh dunia. Jumlah ini jauh meningkat dari tahun 1990 yang hanya sebesar 16%. Meskipun jumlah tersebut masih dibawah Eropa yang mempublikasikan paper sebanyak 38% dan Amerika Serikat sebesar 33% dari total paper ilmiah di dunia, pertumbuhan yang pesat dari negara-negara di Asia pasific merupakan “ancaman” baru bagi Eropa dan Amerika.
Analisis dari National Science Foundation (NSF), sebuah lembaga ilmu pengetahuan bergengsi milik pemerintah Amerika, menyatakan bahwa jumlah peper ilmiah yang dihasilkan oleh Amerika cenderung tetap dari tahun ke tahun dalam dekade terakhir ini, sedangkan negara-negara lain mengalami peningkatan. NSF menyatakan bahwa Cina, Korea Selatan, Singapore, dan Taiwan memiliki pertumbuhan yang paling tinggi dianatara negara-negara Asia lainnya, di samping Jepang yang memang sudah sejak lama memiliki tradisi kuat mempublikasikan paper ilmiah. NSF mencatat pertumbuhan publikasi hasil riset di Cina antara tahun 1998 sampai 2001 mencapai lima kali, Singapura dan Taiwan enam kali, dan Korea Selatan bahkan mencapai 14 kali. Sementara itu Amerika Serikat hanya mencapai 1.1 kalinya dan eropa 1.6, sementara total pertumbuhan di dunia sebesar 1.4 kali.
Kondisi pertumbuhan penelitian yang pesat ini membuat “kekhawatiran” di kalangan peneliti di Eropa bahwa kiblat ilmu pengetahuan akan berpindah ke benua Asia. Komisi Uni Eropa bahkan menyatakan sangat mungkin bagi Eropa untuk gagal memenuhi tujuan-tujuan pengembangan risetnya dengan pertumbuhan seperti ini. Van Bubnoff dalam artikel di majalah Nature bahkan menyatakan jika pertumbuhan riset di negara-negara Asia tetap seperti ini, dalam enam sampai tujuh tahun ke depan diyakini posisi Amerika di tempat kedua akan mampu digeser oleh Asia dalam jumlah publikasi paper ilmiah. Meskipun secara umum kualitas paper ilmiah Asia masih mungkin berada di bawah negara Eropa dan Amerika, kondisi pertumbuhan seperti ini dianggap mampu merangsang dan menciptakan kondisi kondusif bagi peneliti di negara-negara Asia Pasific untuk makin meningkatkan kualitas paper ilmiahnya. Dan bukannya tidak mungkin sedikit demi sedikit kualitas paper ilmiah dari negara Asia pun akan bisa mengungguli hasil riset dari Eropa dan Amerika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar